BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir hingga saat ini masih menjadi hal yang sangat memprihatikan di Indonesia. Pada tahun 2005 angka kematian ibu cukup tinggi mencapai 290,8 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan angka kematian ibu yang paling tinggi di kalangan negara-negara ASEAN. Faktor utama penyebab tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia karena perdarahan. Perdarahan terjadi akibat anemia yang terjadi saat proses persalinan maupun akibat komplikasi selama kehamilan. (www.hidayatullah.com dan www. sinarharapan.co.id, diakses 12 Juli 2011).
Anemia adalah menurunnya kemampuan darah untuk mengikat oksigen yang dapat disebabkan oleh menurunnya jumlah sel darah merah, berkurangnya konsentrasi hemoglobin atau kombinasi antara keduanya. Menurut World Health Organition (WHO) 40% kematian di negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan. (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2007, hal.281).
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya anemia gizi besi pada ibu hamil karena komsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat gizi. Kebutuhan zat gizi meningkat selama kehamilan, serta kehamilan berulang dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena zat besi ibu yang belum pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang di kandungnya (http://www.balita-anda.indoglobal.com, diakses 12 Juli 2011).
Frekuensi ibu hamil dengan anemia lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Di Amerika hanya sekitar 6% ibu hamil yang menderita anemia, sedangkan di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5%. Sebagian besar disebabkan karena kekurangan zat gizi dan perhatian terhadap ibu hamil sehingga dapat menyebabkan terjadinya anemia defisiensi zat besi. (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.281).
Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Sabbangparu periode Januari sampai dengan Desember 2010 tercatat 343 ibu hamil yang memeriksakan diri dan yang mengalami anemia ringan sebanyak 24 (7%) ibu hamil. Sedangkan pada Januari sampai dengan Juli 2011 tercatat 175 ibu hamil yang memeriksakan diri dan yang mengalami anemia ringan sebanyak 24 (13,7%) ibu hamil.
Berbagai pengaruh yang dialami ibu hamil dan janinnya bila menderita anemia selama kehamilan diantaranya abortus, partus, prematurus (lahir prematur) dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) lamanya waktu partus karena kurangnya daya dorong rahim, pendarahan, rentan infeksi dan rawan dekompensasi cordis pada penderita dengan hemoglobin kurang dari 4 gr%. (http://www. indomedia.com/sripo, diakses 12 Juli 2011).
Salah satu upaya yang ditempuh dalam mengatasi anemia dalam kehamilan melalui program pemberian suplementasi tablet besi untuk semua ibu hamil selama 3 bulan yang harus di minum setiap hari satu tablet. (http://www.balita-anda.indoglobal.com, diakses 12 Juli 2011).
Dengan melihat fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat anemia ringan dalam kehamilan sebagai judul Karya Tulis Ilmiah ini.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran asuhan kebidanan antenatal care pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu dengan menggunakan pendekatan manajemen asuhan kebidanan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi data dasar pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
b. Untuk membandingkan rumusan diagnosa/masalah actual pada tinjauan pustaka dan rumusan diagnosa/masalah aktual pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
c. Untuk membandingkan rumusan diagnosa/masalah potensial pada tinajuan kasus dengan masalah potensial pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
d. Untuk membandingkan perlunya tindakan segera dan kolaborasi pada tinjauan pustaka dengan tindakan segera dan kolaborasi pada Ny.”H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
e. Untuk merumuskan rencana tindakan asuhan kebidanan pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
f. Untuk melaksanakan tindakan asuhan kebidanan yang telah disusun pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
g. Untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan pada Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
h. Untuk menerapkan metode pendokumentasian semua temuan dan pada kasus Ny.“H” gestasi 30-32 minggu dengan masalah anemia ringan di Puskesmas Sabbangparu.
C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penyusunan KTI ini ditujukan kepada :
1. Bidang Unit Pelayanan Kesehatan
Sebagai bahan masukan dan menjadi pegangan bagi tenaga kesehatan lainnya khususnya bagi bidan yang bertugas di Rumah Sakit / Puskesmas dalam mengambil langkah-langkah dan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan kebidanan khususnya asuhan kebidanan antenatal care dengan masalah anemia ringan
2. Bidang Akademi / Institusi
Sebagai sumber informasi dan tolak ukur keberhasilan program pendidikan kebidanan sehingga dapat meningkatkan IPTEK kebidanan / kualitas proses pendidikan serta sebagai bahan bacaan ilmiah diperpustakaan dan kerangka perbandingan dalam pengembangan ilmu kebidanan.
3. Masyarakat/keluarga/klien
Sebagai bahan masukan bagi masyarakat / keluarga / klien dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan mengenal anemia ringan serta memperoleh asuhan kebidanan yang berkesinambungan terhadap masalah yang dihadapi khususnya anemia ringan
4. Perkembangan Profesi Kebidanan
Sebagai bahan evaluasi tentang kemampuan penerapan konsep kebidanan yang didapatkan selama pendidikan ke dalam praktek kebidanan secara nyata yang berperan dalam perkembangan profesi kebidanan khususnya dalam asuhan kebidanan Antenatal Care dengan masalah anemia ringan
5. Manfaat Penulis
Sebagai tambahan pengalaman berharga bagi penulis untuk memperluas dan menambah wawasan dalam asuhan kebidanan dan ini merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III Kebidanan Puangrimaggalatung Sengkang.
D. Metodologi Penelitian
1. Tempat dan waktu pelaksanaan studi asuhan kebidanan
Pelaksanaan asuhan kebidanan dilaksanakan di ruang KIA Puskesmas Sabbangparu satu kali seminggu yang dimulai dari tanggal 27 Juni s/d 17 Juli 2011.
2. Sumber data dan tekhnik pengumpulan data
a. Sumber data
1) Data primer
Data diperoleh dari klien dan keluarga klien
2) Data sekunder
Data diperoleh dari test diagnostik, catatan kebidanan dan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
b. Teknik pengumpulan data
Untuk menghimpun data/informasi dalam pengkajian menggunakan teknik :
1) Anamnese/Wawancara
Penulis melakukan tanya jawab dengan klien dan keluarganya guna mendapatkan data yang diperlukan untuk memberikan asuhan kebidanan pada klien tersebut.
2) Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis pada klien dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi, dan pemeriksaan penunjang laboratorium.
3) Pengkajian Psikososial
Pengkajian psikososial meliputi status emosional, respon terhadap kondisi yang dialami serta pola interkasi klien terhadap keluarga, petugas kesehatan dan lingkungannya serta pengetahuan tentang nilai kesehatannya.
4) Studi Dokumentasi
Studi ini dilakukan dengan mempelajari status klien yang bersumber dari catatan dokter/bidan maupun dari hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan anemia ringan.
5) Diskusi
Diskusi dengan tenaga kesehatan yaitu bidan atau dokter yang menangani langsung klien tersebut dan dosen pembimbing karya tulis ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi menjadi 3 trimester yaitu :
a. Trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan.
b. Trimester kedua dari bulan keempat sampai enam bulan.
c. Trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan. (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89)
Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari ovulasi sampai persalinan aterm sekitar 280 hari.
Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu :
a. Triwulan pertama antara 0-12 minggu.
b. Triwulan kedua antara 12-28 minggu.
c. Triwulan ketiga antara 28-40 minggu.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.125)
2. Diagnosis Kehamilan
a. Tanda – tanda tidak pasti hamil
1) Amenorhoe ( tidak dapat haid )
Untuk menentukan usia kehamilan dan perkiraan tanggal persalinan yang akan terjadi dihitung berdasarkan rumus Naegele ( hari + 7 ), ( bulan – 3 ), ( tahun + 1 ).
( Rina Imelda, 2010 Hal. 49 – 50 ).
2) Mual dan muntah ( nausea and vorniting )
Umumnya pada awal kehamilan ibu hamil akan mengalami mual dan muntah yang biasanya terjadi setelah pembuahan hingga 3 bulan pertama kehamilanakan terjadi pusing, malas bangun pagi jika perut kosong
(Chandra E, Baby Guide, 2007, Hal.38 )
3) Berubahnya selera, dan kesukaan atau kebencian yang kuat pada makanan tertentu ( mengidam )
4) Tidak ada selera makan ( anoreksia )
5) Sering ada dorongan untuk kencing pada 6 minggu setelah pembuahan penyebabnya adalah adanya tekanan rahim terhadap kandung kemih yang membatasi kemampuan kandung kamih untuk diisi air seni, saat uterus bertambah besar.
6) Perasaan letih, lelah dan pusing
7) Payudara tegang, melunak dan membesar dan sedikit terasa nyeri disebabakan pengaruh peningkatan hormon estrogen dan progesterone yang merangsang duktus dan alveoli payudara untuk merangsang produksi ASI.
(Chandra E,Baby Guide, 2007 hal. 36 ).
8) Konstipasi / obstipasi
Efek progesteron pada usus halus adalah memperpanjang absorbsi nutrient, mineral, dan obat – obatan. Efek progesterone pada usus besar menyebabkan konstipasi karena waktu transit yang melambat membuat air semakin banyak diabsorbsi dan menyebabkan peningkatan platulen karena usus mengalami pergeseran akibat pembesaran uterus .
( Helen Varney 2007, hal. 501 ).
9) Pigmentasi kulit
Meski penyebab pigmentasi kulit belum jelas hingga kini, diduga bahwa estrogen dan progesteron memiliki efek menstimulasi melanosit, efek ini dapat membuat warna putting dan areola primer menjadi lebih gelap. Kedua hal ini terjadi pada bulan ke tiga kehamilan. Linea nigra ( garis tipis hasil pigmentasi kulit pada garis tengah pada abdomen mulai sympisis pubis hingga ke umbilikus. Streae ( tanda peregangan kulit ) pada abdomen ( streae gravidarum ). Serta kloasma atau topeng kehamilan ( perubahan warna menjadi kecoklatan dan tidak merata pada area dahi, hidung, pipi, dan leher dan terjadi pada sekita bulan ke lima kehamilan.
( Helen Varney 2007, hal. 493 ).
10) Epulis : hipertrofi dan papil gusi
11) Pemekaran vena – vena : varises
b. Tanda – tanda Kemungkinan Hamil
1) Perut membesar
2) Uterus membesar : terjadi perubahan dalam bentuk besar, konsistensi dalam rahim.
3) Tanda Hegar ( segmen bawah uterus lunak pada perabaan )
4) Tanda Chadwick ( vagina berwarna ungu kebiru – biruan )
5) Tanda piscaseck ( uterus membesar kesalah satu arah )
6) Braxton Hick ( kontraksi – kontraksi kecil bila uterus dirangsang ).
7) Teraba ballottement
8) Reaksi kehamilan positif
( Varney, 2007, hal. 495 – 496 )
c. Tanda-tanda Pasti Hamil (Positif) :
1) Dapat diraba dan dikenal bagian-bagian janin.
2) Denyut jantung janin.
3) Didengar dengan stetoskop-monoral laenec
4) Dicatat dan didengar dengan alat doppler.
5) Dicatat dengan feto-elektro kardiogram.
6) Dapat dirasakan gerakan janin dan balotomen.
7) Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin.
8) Dengan ultrasonografi (scanning) dapat diketahui ukuran kantong janin, panjang janin (crown-rump),dan diameter biparietalis.
(Saifuddin,A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal ,2007, hal: 129)
3. Perubahan Fisiologi Yang Terjadi Dalam Kehamilan
a. Uterus
Pada bulan-bulan pertama uterus akan membesar di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uteri. Disamping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui,antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita hamil fisiologik (intra uteri) atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti molahidatidosa dan sebagainya
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,2007,hal:89)
Tafsiran besar pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus:
1) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar sebesar telur bebek.
2) Pada kehamilan 12 minggu, uterus membesar sebesar telur angsa. Pada saat ini fundus uteri telah dapat diraba dari luar, di atas simfisis.
3) Pada kehamilan 16 minggu, besar uterus kira-kira sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa. Dari luar fundus uteri kira-kira terletak di antara jarak pusat ke simfisis.
4) Pada kehamilan 20 minggu, fundus uteri terletak kira-kira di pinggir bawah pusat.
5) Pada kehamilan 24 minggu, fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat.
6) Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira tiga jari di atas pusat atau sepertiga jarak pusat ke prosessus xifoideus.
7) Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak di antara setengah jarak pusat dan prosessus xifoideus.
8) Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira satu jari bawah prosessus xifoideus.
9) Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah prosessus xifoideus
( Wiknjosastro.H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal: 90-91)
Gambar 1 : Pemeriksaan fundus uteri untuk menentukan umur kehamilan
(Sumber : Wiknjosastro.H,Imu Kebidanan, 2007, hal.158)
b. Serviks uteri
Serviks mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat,dan dengan adanya hipervaskularisasi mka konsistensi serviks menjadi lunak.
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan, 2007,hal: 94)
c. Vagina dan vulva
Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vulva dan vagina akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat berwarna merah atau kebiruan. Warna livide pada vagina dan porsio serviks disebut tanda Chadwick
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,,2007,hal:95).
d. Indung telur (ovarium)
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta pada kira – kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira – kira 3cm, kemudian ia mengecil serta plasenta terbentuk, korpus luteum berfungsi untuk mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron dan lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta jika plasenta telah terbentuk.
( Winkjoasastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95 ).
e. Payudara
Payudara mengalami perubahan-perubahan sebagai persiapan untuk memberikan ASI pada masa laktasi. Payudara akan tampak menjadi lebih besar, areola menjadi lebih hitam dan payudara lebih menonjol. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen, progesteron dan hormon somatomammotropin.
Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran payudara, progesteron menambah sel-sel asinus sedangkan somatomamtropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga perubahan kasein, laktoglobulin dan laktalbumin. Dengan demikian mamma dipersiapkan untuk laktasi (Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95).
Gambar 2 : Anatomi payudara
(Sumber : Varney, dkk, hal.9)
f. Sistem sirkulasi darah
1) Volume Darah
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25% dan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung (cardiac output) yang meningkat sebanyak + 30%
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96).
2) Protein darah
Protein dalam serum berubah. Jumlah protein, albumin, dan gamma globulin menurun dalam triwulan I dan akan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan. Beta globulin dan fibrinogen terus meningkat.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96 ).
3) Hemoglobin
Hemoglobin cenderung menurun oleh karena kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk kebutuhan transport oksigen (O2) yang sangat diperlukan selama kehamilan. Leukosit meningkat sampai 10.000 /ml (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.37).
4) Nadi dan tekanan darah
Tekanan darah arteri biasanya menurun hingga pertengahan kehamilan dan pada saat tertentu tekanan ini meningkat lagi hingga tekanan darah sebelum hamil pada saat aterm. Tekanan sistolik menurun 8 hingga 10 poin sementara tekanan diastolik mengalami penurunan lebih besar, ± 12 poin.
( Varney 2007, hal 498 )
5) Jantung
Karena kebutuhan suplai darah meningkat pada ibu hamil,jantung bekerja dengan keras selama hamil. Selain itu efek dari rahim yang membesar, paru-paru tertekan dan membuat ibu hamil sesak nafas dan cepat lelah.
(Chandra E,Baby Guide, 2007, hal:36)
g. Sistem pernapasan
Seoranng wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan napas pendek. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus – usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira – kira 20 %, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007 hal. 96 )
h. Sistem pencernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terhadap perasaan enek (mual), akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus-tonus traktus digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus-usus. Gejala muntah (emesis), biasanya terjadi pada pagi hari yang biasa dikenal dengan morning sickness
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
i. Sistem perkemihan
Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar dan akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul maka kandung kencing tertekan kembali sehingga timbul sering kencing. Uterus membesar, tonus otot-otot saluran kemih menurun akibat pengaruh hormon progesteron
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
j. Kulit
Peningkatan melanophore stimulating hormone (MSH) menyebabkan perubahan berupa hiperpigmentasi pada wajah (cloasma gravidarum), payudara, linea alba, strie livide pada perut dan sebagainya
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
k. Tulang dan gigi
Selama hamil ibu sering mengalami pembengkakan gusi, terjadinya karang gigi, dan gusi mudah berdarah, bahkan tak jarang menimbulkan lubang gigi.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal. 36 ).
l. Kelenjar endokrin
Kelenjar tiroid dapat membesar sedikit, kelenjar hipofisis dapat membesar terutama pada lobus anterior dan kelenjar adrenal tidak begitu terpengaruh (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.39).
m. Perubahan metabolisme
Kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, oleh karena itu wanita hamil perlu mendapat makanan yang bergizi dan dalam kondisi sehat.
1) Metabolisme basal naik sebesar 15%-20% dari semula, terutama pada trimester ketiga.
2) Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 MEq /l menjadi 145 Meq /l disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan oleh janin.
3) Kebutuhan protein wanita hamil makin meningkat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan dan juga untuk persiapan laktasi.
4) Kebutuhan kalori di dapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
5) Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :
a) Kalsium : 1,5 gr /hr, 30-40 gr untuk pertumbuhan tulang janin.
b) Fosfor rata-rata 2 gr sehari.
c) Zat besi 800 mg atau 30-50 mg sehari.
d) Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak.
Berat badan ibu hamil akan bertambah dari 6,5-16,5 kg selama hamil (½ kg /minggu). Pertumbuhan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut : janin 3-3,5 kg, plasenta 0,5 kg, air ketuban 1 kg, rahim 1 kg, lemak 1,5 kg, protein 2 kg dan rekresi air garam 1,5 kg
( S.Rositawaty 2006, Hal.12 )
4. Perubahan Psikologi Wanita Hamil
Beberapa perubahan psikologi pada wanita hamil yang sering terjadi selama masa kehamilan :
a. Perubahan Pada Trimester Pertama.
Selama bulan pertama hingga ketiga, suasana emosi ibu hamil biasanya gampang sekali berubah. Pergolakan emosi menyebabkan ibu hamil sensitif, mudah menangis, gampang lelah, takut bila terjadi keguguran, lebih merasakan sakit daripada hamil. Perubahan emosi lebih disebabkan adanya aktifitas hormonal yang meningkat pesat dan sebagian faktor fisik. Misalnya kelelahan, mual, muntah, morning sickness, atau perubahan bentuk tubuh.
b. Perubahan Pada Trimester Kedua.
Kondisi emosi ibu hamil lebih baik. Tidak banyak keluhan yang dirasakan selama kehamilan bulan keempat hingga keenam ini. Karenanya, periode ini disebut periode keemasan. Ibu hamil mulai menyesuaikan diri dengan perubahan hormon kehamilan. Selain itu, tidak banyak muncul keluhan-keluhan fisik. Inilah yang membuat ibu hamil bisa menjalani kehamilan dengan lebih enak dan tidak sedramatis sebelumnya.
c. Perubahan Pada Trimester Ketiga.
Memasuki trimester akhir,perut yang semakin membesar membuat ibu hamil tidak bisa bergerak, cepat lelah, mudah lupa, dan gampang cemas. Emosinya menjadi lebih sukar dikendalikan, bahkan lebih sensitif. Tetapi seiring dengan pertambahan usia kehamilan, ibu hamil lebih siap mental untuk mempersiapkan persalinan dan kelahiran buah hati yang telah dinanti.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 67 )
5. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin dalam Kehamilan
Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan bahwa satu bulan berumur 28 hari. Kehamilan dianggap lewat bulan bila lebih dari 42 minggu. Untuk memperhitungkan waktu kelahiran dipakai rumus Naegle, yaitu tanggal haid pertama ditambah tujuh sedangkan bulannya ditambah sembilan. Perkiraan persalinan dapat diperhitungkan dengan mempergunakan ultrasonografi bila tanggal haid tak diketahui.
1) Minggu 30
Lemak dan berat bayi terus bertambah sehingga bobotnya bayi 1400 gram dan panjangnya 27 cm pada minggu ini. Karena janin semakin besar,gerkannya semakin terasa.
2) Minggu 31
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di plasenta memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Bayi berkemih sebanyak 500 ml sehari di dalam air ketuban.
3) Minggu 32
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu mata, alis, dan rambut di kepala bayi semakin jelas. Lanugo yang menutupi tubuh bayi mulai rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat dilahirkan. Dengan berat 1800 gram dan panjang 29 cm, kemampuan bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila janin dilahirkan pada minggu ini.
4) Minggu 33
Vernix yang menutupi kulit bayi sudah cukup tebal. Paru-parunya hampir matang dan janin terus berlatih pernafasan setiap hari. Pada minggu ini, ia mulai berada dalam posisi kelahiran.
5) Minggu 34
Bayi yang dilahirkan pada minggu ini, paru-parunya sudah cukup matang. Ukurannya rata-rata 2250 gram dan 32 cm sehingga ia sudah mampu bertahan hidup tanpa bantuan peralatan medis.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 19-24)
B. Konsep Dasar Antenatal Care
1. Pengertian Antenatal Care
Antenatal Care (ANC) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap ibu hamil beserta janinnya secara berkala untuk mengawasi kondisi kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan janin guna persiapan persalinannya,masa nifas,pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan
2. Tujuan Pengawasan Antenatal Care
a. Tujuan Umum
Menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat pula
(Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.47).
b. Tujuan Khusus
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
3) Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar dalam masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89-90).
3. Kebijakan Program dan Tekhnis Asuhan Antenatal Care
a. Kebijakan Program
Memeriksakan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan.
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama hamil
1) Satu kali pada triwulan pertama.
2) Satu kali pada triwulan kedua.
3) Dua kali pada triwulan ketiga.
Pelayanan asuhan Antenatal Care sesuai standar yaitu “14 T” meliputi:
1) Timbang berat badan.
2) Ukur tekanan darah.
3) Ukur tinggi fundus uteri.
4) Pemberian tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan.
5) Pemberian imunisasi tetanus toxoid.
6) PemeriksaanHb.
7) PemeriksaanVDRL.
8) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara.
9) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil.
10) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
11) Pemeriksaan protein urine atas indikasi.
12) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi.
13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok.
14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria.
b. Kebijakan Tekhnis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat.
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1) Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melaksanakan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan.
3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4) Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.
(Saifuddin A.B,Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2007, hal.89-90)
4. Informasi Penting Untuk Setiap Kunjungan Antenatal Care
a. Trimester satu (sebelum minggu ke-14).
1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil.
2) Mendeteksi masalah dan menanganinya.
3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan lain-lain).
b. Trimester kedua (sebelum minggu ke-28).
1) Sama pada trimester pertama.
2) Kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah evaluasi oedema pada wajah dan tangan, periksa protein urine).
c. Trimester ketiga (antara minggu ke-28 – 36).
1) Sama pada trimester pertama dan kedua.
2) Palpasi abdominal untuk mengetahui ada kehamilan ganda atau tidak
d. Trimester ketiga (setelah 36 minggu).
1) Sama seperti diatas
2) Deteksi letak bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
(Pusdinakes, Materi Asuhan Antenatal, 2007, hal.2-3)
C. Konsep Dasar Anemia
1. Pengertian Tentang Anemia
a. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari 10 gr /100 ml.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.450).
b. Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menurunnya kadar zat warna merah dalam sel darah merah atau eritrosit yang disebut sebagai hemoglobin.
(http:www//sinarharapan.co.id, diakses 12 Juli 2011).
2. Patofisiologi Anemia
Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah (hypervolemia). Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah merah) yang beredar dalam tubuh. Tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga memberikan efek yaitu konsentrasi hemoglobin berkurang dari 12 mg /100 ml.
Pengenceran darah (Hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah merah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara fisiologi hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Bila hemoglobin itu sebelum sekitar 11 gr% maka terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologis dan Hb itu akan menjadi 9,5-10 gr%
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan,2007, hal.448-450).
3. Macam-macam Anemia dalam Kehamilan
a. Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang sering dijumpai adalah kekurangan zat besi, hal ini disebabkan karena kurangnya zat besi dalam makanan, karena gangguan resorpsi, ataukah karena terlampau banyaknya zat besi yang keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b. Anemia megaloblastik.
Disebabkan karena defisiensi asam folak karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
c. Anemia hipoplastik
Disebabkan karena sumsum tulang tidak mampu membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar rontgen, dan obat-obatan.
d. Anemia hemolitik.
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil maka anemianya biasanya menjadi berat sebaliknya mungkin pula pada kehamilan menyebabkan krises hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.451-458)
4. Tanda dan Gejala Anemia
Berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa kehamilan mengakibatkan suplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang sehingga menimbulkan tanda dan gejala sebagai berikut :
a. Merasa lelah dan sering mengantuk.
b. Merasa pusing dan lemah.
c. Merasa tidak enak badan dan napas pendek.
d. Mengeluh sakit kepala.
e. Mengeluh lidah perih mudah luka.
f. Bibir pucat dan kering.
g. Pucat pada membran, mukosa dan konjungtiva.
h. Pucat pada kuku jari tangan.
i. Tidak enak tidur.
j. Hilang nafsu makan, mual dan muntah.
k. Riwayat kehamilan yang dekat.
(Varney, dkk, 2007, hal.152)
5. Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin
a. Pengaruh anemia dalam kehamilan.
1) Risiko terjadi abortus
2) Persalinan prematur.
3) Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
4) Mudah terjadi infeksi.
5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%).
6) Mengancam jiwa dan kehidupan ibu.
b. Pengaruh anemia dalam persalinan :
1) Gangguan his, kekuatan mengedan.
2) Kala satu dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar.
3) Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
4) Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan post pertum karena atonia uteri.
5) Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
c. Pengaruh anemia pada kala nifas.
1) Terjadi subinvolusio uteri menimbulkan perdarahan post partum.
2) Memudahkan infeksi puerperium.
3) Pengeluaran ASI berkurang.
4) Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
5) Anemia kala nifas.
6) Mudah terjadi infeksi mammae.
d. Pengaruh anemia terhadap janin :
1) Abortus.
2) Terjadi kematian intra uterin.
3) Persalinan prematusritas tinggi.
4) Berat badan lahir rendah.
5) Dapat terjadi cacat bawaan.
6) Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.
7) Intelegensia rendah.
(Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.31-32).
6. Diagnosis Anemia Pada Kehamilan
Diagnosis anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan :
a. Anamnesis
Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, nafsu makan berkurang dan keluhan muntah-muntah lebih hebat pada kehamilan muda (Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.30).
b. Pemeriksaan fisik
Keluhan lemah, kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan konjungtiva oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal, 282).
c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi. Pemeriksaan dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester II. Dengan melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb dengan menggunakan alat sahli.
d. Batasan anemia yang digunakan oleh :
1) Departemen kesehatan sebagai berikut :
a) Normal > 10,5 gr%.
b) Anemia ringan 9 – 10,4% gr%.
c) Anemia sedang 7,6 – 8,9 gr%.
d) Anemia berat < 7,5 gr%
2) Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli
a) Normal 11 gr%
b) Anemia ringan 9 – 10,4 gr%.
c) Anemia sedang 7 – 8 gr%.
d) Anemia berat < 7 gr%.
(Manuaba, I.B.G, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan ,2007, hal.30).
7. Pencegahan dan Penanganan Anemia
a. Pencegahan anemia
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga di ketahui adanya infeksi parasit.
(Manuaba, I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.32).
Dengan pertimbangan bahwa sebagian ibu hamil mengalami anemia, pemerintah telah menyediakan preafarat besi (tablet besi/Fe) untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke Posyandu, maka dilakukan pemberian suplemen langsung zat besi yang mengandung 200 mg sulfat ferrosus 0,25 mg asam folat yang diikat dengan lactosa, diberikan setiap hari sejak kehamilan 20 minggu dan diharapkan ibu hamil mengkomsumsi minimal 90 tablet selama masa hamil.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007,hal 282)
b. Penanganan anemia
1) Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb 9 – 10,9% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg /hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 gr% /bulan.
2) Anemia sedang
Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi feros 600 – 1000 mg /hari seperti sufat ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 gr /100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.
3) Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena 2 x 10 ml intamuskuler pada gluteus. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007.hal:282).
Tabel 1.
Penanganan anemia dalam kehamilan menurut tingkat pelayanan
Polindes 1. Membuat diagnosis dan rujukan pemeriksaan laboratorium.
2. Memberikan terapi oral : besoi 60 mg /hari.
3. Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyusui.
4. Membuat diagnosis dan terapi
Puskesmas 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Menentukan penyakit kronik (TBC, malaria) dan penanganannya.
Rumah sakit 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Diagnosa thalassemia dan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes pada suami menentukan resiko pada bayi.
Sumber : Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2007, hal.284
D. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen Asuhan Kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian logis.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen, 2006, hal.121)
2. Tahapan dalam Manajemen Asuhan Kebidanan
Proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah. Manajemen asuhan kebidanan dimulai dengan pengumpulan data dan diakhiri dengan evaluasi asuhan kebidanan.
Ketujuh langkah terdiri dari keseluruhan kerangka kerja yang dapat dipakai dalam segala situasi. Langkah tersebut sebagai berikut :
a. Identifikasi Data Dasar
Identifikasi data merupakan langkah awal dari manajemen kebidanan, langkah yang merupakan kemampuan intelektual dalam mengidentifikasi masalah klien, kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka identifikasi data dasar meliputi pengumpulan data dan pengolahan.
1) Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data mencari dan menggali data/fakta atau informasi baik dari klien, keluarganya maupun tim kesehatan lainnya atau data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan pada pencatatan dokumen medik, hal yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :
a) Wawancara
Wawancara/anamnese adalah tanya jawab yang dilakukan antara bidan dan klien, keluarga lain maupun tim medis lain, data yang dikumpulkan mencakup semua keluhan klien tentang masalah yang dimiliki.
b) Observasi dan pemeriksaan fisik
Pada saat observasi dilakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe).
2) Pengolahan data
Setelah data yang dikumpulkan secara lengkap dan benar maka selanjutnya dikelompokkan dalam :
a) Data subyektif
Meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat menstruasi, riwayat persalinan, riwayat nifas dan laktasi yang lalu, riwayat ginekologi, dan KB, latar belakang budaya, pengetahuan dan dukungan keluarga serta keadaan psikososial.
b) Data obyektif
Menyangkut keadaan umum, tinggi, dan berat badan, tanda vital dan keadaan fisik obstetri.
c) Data penunjang
Meliputi hasil pemeriksaan laboratorium.
b. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Diagnosa adalah hasil analisis dan perumusan masalah yang diputuskan berdasarkan identifikasi yang didapat dari analisa-analisa dasar. Dalam menetapkan diagnosa bidan menggunakan pengetahuan profesional sebagai data dasar untuk mengambil tindakan diagnosa kebidanan yang ditegakkan harus berlandaskan ancaman keselamatan hidup klien.
c. Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Pada bab ini mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin akan terjadi atau yang akan dialami oleh klien jika tidak mendapatkan penanganan yang tidak akurat yang dilakukan melalui pengamatan yang cermat, observasi yang secara akurat dan persiapan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi bila tidak segera ditangani dapat membawa dampak yang lebih berbahaya sehingga mengancam kehidupan klien.
d. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera dan Kolaborasi
Menentukan intervensi yang harus langsung segera dilakukan oleh bidan atau dokter kebidanan. Hal ini terjadi pada penderita ke gawat darurat kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan lebih ahli sesuai keadaan klien. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya kolaborasi maupun konsultasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Pada bagian ini pula bidan mengevaluasi setiap keadaan klien untuk menentukan tindakan selanjutnya yang diperoleh dari hasil kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Pada tahap ini bila klien dalam keadaan normal tidak perlu dilakukan apapun sampai tahap kelima.
e. Intervensi (Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan)
Mengembangkan tindakan komprehensif yang ditentukan pada tahap sebelumnya, juga mengantisipasi diagnosa dan masalah kebidanan secara komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya sesuai kondisi dan situasi berdasarkan analisa dan asumsi yang seharusnya boleh dikerjakan atau tidak oleh bidan.
f. Implementasi (Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan)
Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan bekerja sama dengan tim kesehatan lain. Bidan harus bertanggung jawab terhadap tindakan langsung ataupun tindakan konsultasi maupun kolaborasi, implementasi yang efisien akan mengurangi waktu dan biaya perawatan serta meningkatkan kualitas pelayanan pada klien.
g. Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan
Langkah akhir manajemen kebidanan adalah evaluasi namun sebenarnya langkah manajemen kebidanan pada tahap evaluasi bidan harus mengetahui sejauhmana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien.
(Varney, 2007, hal.25-27)
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
a. Data Subyektif
Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan serta keluhan-keluhan, diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
b. Data Obyektif
Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi auskultasi, perkusi serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radio diagnostik.
c. Assesment/Diagnosa
Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut. Penegakan diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman keselamatan pasien/klien.
d. Planning/perencanaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah pasien/klien.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen,2006, hal.60-61)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi menjadi 3 trimester yaitu :
a. Trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan.
b. Trimester kedua dari bulan keempat sampai enam bulan.
c. Trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan. (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89)
Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari ovulasi sampai persalinan aterm sekitar 280 hari.
Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu :
a. Triwulan pertama antara 0-12 minggu.
b. Triwulan kedua antara 12-28 minggu.
c. Triwulan ketiga antara 28-40 minggu.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.125)
2. Diagnosis Kehamilan
a. Tanda – tanda tidak pasti hamil
1) Amenorhoe ( tidak dapat haid )
Untuk menentukan usia kehamilan dan perkiraan tanggal persalinan yang akan terjadi dihitung berdasarkan rumus Naegele ( hari + 7 ), ( bulan – 3 ), ( tahun + 1 ).
( Rina Imelda, 2010 Hal. 49 – 50 ).
2) Mual dan muntah ( nausea and vorniting )
Umumnya pada awal kehamilan ibu hamil akan mengalami mual dan muntah yang biasanya terjadi setelah pembuahan hingga 3 bulan pertama kehamilanakan terjadi pusing, malas bangun pagi jika perut kosong
(Chandra E, Baby Guide, 2007, Hal.38 )
3) Berubahnya selera, dan kesukaan atau kebencian yang kuat pada makanan tertentu ( mengidam )
4) Tidak ada selera makan ( anoreksia )
5) Sering ada dorongan untuk kencing pada 6 minggu setelah pembuahan penyebabnya adalah adanya tekanan rahim terhadap kandung kemih yang membatasi kemampuan kandung kamih untuk diisi air seni, saat uterus bertambah besar.
6) Perasaan letih, lelah dan pusing
7) Payudara tegang, melunak dan membesar dan sedikit terasa nyeri disebabakan pengaruh peningkatan hormon estrogen dan progesterone yang merangsang duktus dan alveoli payudara untuk merangsang produksi ASI.
(Chandra E,Baby Guide, 2007 hal. 36 ).
8) Konstipasi / obstipasi
Efek progesteron pada usus halus adalah memperpanjang absorbsi nutrient, mineral, dan obat – obatan. Efek progesterone pada usus besar menyebabkan konstipasi karena waktu transit yang melambat membuat air semakin banyak diabsorbsi dan menyebabkan peningkatan platulen karena usus mengalami pergeseran akibat pembesaran uterus .
( Helen Varney 2007, hal. 501 ).
9) Pigmentasi kulit
Meski penyebab pigmentasi kulit belum jelas hingga kini, diduga bahwa estrogen dan progesteron memiliki efek menstimulasi melanosit, efek ini dapat membuat warna putting dan areola primer menjadi lebih gelap. Kedua hal ini terjadi pada bulan ke tiga kehamilan. Linea nigra ( garis tipis hasil pigmentasi kulit pada garis tengah pada abdomen mulai sympisis pubis hingga ke umbilikus. Streae ( tanda peregangan kulit ) pada abdomen ( streae gravidarum ). Serta kloasma atau topeng kehamilan ( perubahan warna menjadi kecoklatan dan tidak merata pada area dahi, hidung, pipi, dan leher dan terjadi pada sekita bulan ke lima kehamilan.
( Helen Varney 2007, hal. 493 ).
10) Epulis : hipertrofi dan papil gusi
11) Pemekaran vena – vena : varises
b. Tanda – tanda Kemungkinan Hamil
1) Perut membesar
2) Uterus membesar : terjadi perubahan dalam bentuk besar, konsistensi dalam rahim.
3) Tanda Hegar ( segmen bawah uterus lunak pada perabaan )
4) Tanda Chadwick ( vagina berwarna ungu kebiru – biruan )
5) Tanda piscaseck ( uterus membesar kesalah satu arah )
6) Braxton Hick ( kontraksi – kontraksi kecil bila uterus dirangsang ).
7) Teraba ballottement
8) Reaksi kehamilan positif
( Varney, 2007, hal. 495 – 496 )
c. Tanda-tanda Pasti Hamil (Positif) :
1) Dapat diraba dan dikenal bagian-bagian janin.
2) Denyut jantung janin.
3) Didengar dengan stetoskop-monoral laenec
4) Dicatat dan didengar dengan alat doppler.
5) Dicatat dengan feto-elektro kardiogram.
6) Dapat dirasakan gerakan janin dan balotomen.
7) Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin.
8) Dengan ultrasonografi (scanning) dapat diketahui ukuran kantong janin, panjang janin (crown-rump),dan diameter biparietalis.
(Saifuddin,A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal ,2007, hal: 129)
3. Perubahan Fisiologi Yang Terjadi Dalam Kehamilan
a. Uterus
Pada bulan-bulan pertama uterus akan membesar di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uteri. Disamping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui,antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita hamil fisiologik (intra uteri) atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti molahidatidosa dan sebagainya
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,2007,hal:89)
Tafsiran besar pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus:
1) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar sebesar telur bebek.
2) Pada kehamilan 12 minggu, uterus membesar sebesar telur angsa. Pada saat ini fundus uteri telah dapat diraba dari luar, di atas simfisis.
3) Pada kehamilan 16 minggu, besar uterus kira-kira sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa. Dari luar fundus uteri kira-kira terletak di antara jarak pusat ke simfisis.
4) Pada kehamilan 20 minggu, fundus uteri terletak kira-kira di pinggir bawah pusat.
5) Pada kehamilan 24 minggu, fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat.
6) Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira tiga jari di atas pusat atau sepertiga jarak pusat ke prosessus xifoideus.
7) Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak di antara setengah jarak pusat dan prosessus xifoideus.
8) Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira satu jari bawah prosessus xifoideus.
9) Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah prosessus xifoideus
( Wiknjosastro.H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal: 90-91)
Gambar 1 : Pemeriksaan fundus uteri untuk menentukan umur kehamilan
(Sumber : Wiknjosastro.H,Imu Kebidanan, 2007, hal.158)
b. Serviks uteri
Serviks mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat,dan dengan adanya hipervaskularisasi mka konsistensi serviks menjadi lunak.
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan, 2007,hal: 94)
c. Vagina dan vulva
Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vulva dan vagina akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat berwarna merah atau kebiruan. Warna livide pada vagina dan porsio serviks disebut tanda Chadwick
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,,2007,hal:95).
d. Indung telur (ovarium)
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta pada kira – kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira – kira 3cm, kemudian ia mengecil serta plasenta terbentuk, korpus luteum berfungsi untuk mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron dan lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta jika plasenta telah terbentuk.
( Winkjoasastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95 ).
e. Payudara
Payudara mengalami perubahan-perubahan sebagai persiapan untuk memberikan ASI pada masa laktasi. Payudara akan tampak menjadi lebih besar, areola menjadi lebih hitam dan payudara lebih menonjol. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen, progesteron dan hormon somatomammotropin.
Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran payudara, progesteron menambah sel-sel asinus sedangkan somatomamtropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga perubahan kasein, laktoglobulin dan laktalbumin. Dengan demikian mamma dipersiapkan untuk laktasi (Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95).
Gambar 2 : Anatomi payudara
(Sumber : Varney, dkk, hal.9)
f. Sistem sirkulasi darah
1) Volume Darah
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25% dan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung (cardiac output) yang meningkat sebanyak + 30%
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96).
2) Protein darah
Protein dalam serum berubah. Jumlah protein, albumin, dan gamma globulin menurun dalam triwulan I dan akan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan. Beta globulin dan fibrinogen terus meningkat.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96 ).
3) Hemoglobin
Hemoglobin cenderung menurun oleh karena kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk kebutuhan transport oksigen (O2) yang sangat diperlukan selama kehamilan. Leukosit meningkat sampai 10.000 /ml (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.37).
4) Nadi dan tekanan darah
Tekanan darah arteri biasanya menurun hingga pertengahan kehamilan dan pada saat tertentu tekanan ini meningkat lagi hingga tekanan darah sebelum hamil pada saat aterm. Tekanan sistolik menurun 8 hingga 10 poin sementara tekanan diastolik mengalami penurunan lebih besar, ± 12 poin.
( Varney 2007, hal 498 )
5) Jantung
Karena kebutuhan suplai darah meningkat pada ibu hamil,jantung bekerja dengan keras selama hamil. Selain itu efek dari rahim yang membesar, paru-paru tertekan dan membuat ibu hamil sesak nafas dan cepat lelah.
(Chandra E,Baby Guide, 2007, hal:36)
g. Sistem pernapasan
Seoranng wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan napas pendek. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus – usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira – kira 20 %, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007 hal. 96 )
h. Sistem pencernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terhadap perasaan enek (mual), akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus-tonus traktus digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus-usus. Gejala muntah (emesis), biasanya terjadi pada pagi hari yang biasa dikenal dengan morning sickness
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
i. Sistem perkemihan
Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar dan akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul maka kandung kencing tertekan kembali sehingga timbul sering kencing. Uterus membesar, tonus otot-otot saluran kemih menurun akibat pengaruh hormon progesteron
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
j. Kulit
Peningkatan melanophore stimulating hormone (MSH) menyebabkan perubahan berupa hiperpigmentasi pada wajah (cloasma gravidarum), payudara, linea alba, strie livide pada perut dan sebagainya
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
k. Tulang dan gigi
Selama hamil ibu sering mengalami pembengkakan gusi, terjadinya karang gigi, dan gusi mudah berdarah, bahkan tak jarang menimbulkan lubang gigi.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal. 36 ).
l. Kelenjar endokrin
Kelenjar tiroid dapat membesar sedikit, kelenjar hipofisis dapat membesar terutama pada lobus anterior dan kelenjar adrenal tidak begitu terpengaruh (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.39).
m. Perubahan metabolisme
Kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, oleh karena itu wanita hamil perlu mendapat makanan yang bergizi dan dalam kondisi sehat.
1) Metabolisme basal naik sebesar 15%-20% dari semula, terutama pada trimester ketiga.
2) Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 MEq /l menjadi 145 Meq /l disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan oleh janin.
3) Kebutuhan protein wanita hamil makin meningkat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan dan juga untuk persiapan laktasi.
4) Kebutuhan kalori di dapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
5) Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :
a) Kalsium : 1,5 gr /hr, 30-40 gr untuk pertumbuhan tulang janin.
b) Fosfor rata-rata 2 gr sehari.
c) Zat besi 800 mg atau 30-50 mg sehari.
d) Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak.
Berat badan ibu hamil akan bertambah dari 6,5-16,5 kg selama hamil (½ kg /minggu). Pertumbuhan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut : janin 3-3,5 kg, plasenta 0,5 kg, air ketuban 1 kg, rahim 1 kg, lemak 1,5 kg, protein 2 kg dan rekresi air garam 1,5 kg
( S.Rositawaty 2006, Hal.12 )
4. Perubahan Psikologi Wanita Hamil
Beberapa perubahan psikologi pada wanita hamil yang sering terjadi selama masa kehamilan :
a. Perubahan Pada Trimester Pertama.
Selama bulan pertama hingga ketiga, suasana emosi ibu hamil biasanya gampang sekali berubah. Pergolakan emosi menyebabkan ibu hamil sensitif, mudah menangis, gampang lelah, takut bila terjadi keguguran, lebih merasakan sakit daripada hamil. Perubahan emosi lebih disebabkan adanya aktifitas hormonal yang meningkat pesat dan sebagian faktor fisik. Misalnya kelelahan, mual, muntah, morning sickness, atau perubahan bentuk tubuh.
b. Perubahan Pada Trimester Kedua.
Kondisi emosi ibu hamil lebih baik. Tidak banyak keluhan yang dirasakan selama kehamilan bulan keempat hingga keenam ini. Karenanya, periode ini disebut periode keemasan. Ibu hamil mulai menyesuaikan diri dengan perubahan hormon kehamilan. Selain itu, tidak banyak muncul keluhan-keluhan fisik. Inilah yang membuat ibu hamil bisa menjalani kehamilan dengan lebih enak dan tidak sedramatis sebelumnya.
c. Perubahan Pada Trimester Ketiga.
Memasuki trimester akhir,perut yang semakin membesar membuat ibu hamil tidak bisa bergerak, cepat lelah, mudah lupa, dan gampang cemas. Emosinya menjadi lebih sukar dikendalikan, bahkan lebih sensitif. Tetapi seiring dengan pertambahan usia kehamilan, ibu hamil lebih siap mental untuk mempersiapkan persalinan dan kelahiran buah hati yang telah dinanti.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 67 )
5. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin dalam Kehamilan
Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan bahwa satu bulan berumur 28 hari. Kehamilan dianggap lewat bulan bila lebih dari 42 minggu. Untuk memperhitungkan waktu kelahiran dipakai rumus Naegle, yaitu tanggal haid pertama ditambah tujuh sedangkan bulannya ditambah sembilan. Perkiraan persalinan dapat diperhitungkan dengan mempergunakan ultrasonografi bila tanggal haid tak diketahui.
1) Minggu 30
Lemak dan berat bayi terus bertambah sehingga bobotnya bayi 1400 gram dan panjangnya 27 cm pada minggu ini. Karena janin semakin besar,gerkannya semakin terasa.
2) Minggu 31
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di plasenta memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Bayi berkemih sebanyak 500 ml sehari di dalam air ketuban.
3) Minggu 32
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu mata, alis, dan rambut di kepala bayi semakin jelas. Lanugo yang menutupi tubuh bayi mulai rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat dilahirkan. Dengan berat 1800 gram dan panjang 29 cm, kemampuan bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila janin dilahirkan pada minggu ini.
4) Minggu 33
Vernix yang menutupi kulit bayi sudah cukup tebal. Paru-parunya hampir matang dan janin terus berlatih pernafasan setiap hari. Pada minggu ini, ia mulai berada dalam posisi kelahiran.
5) Minggu 34
Bayi yang dilahirkan pada minggu ini, paru-parunya sudah cukup matang. Ukurannya rata-rata 2250 gram dan 32 cm sehingga ia sudah mampu bertahan hidup tanpa bantuan peralatan medis.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 19-24)
B. Konsep Dasar Antenatal Care
1. Pengertian Antenatal Care
Antenatal Care (ANC) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap ibu hamil beserta janinnya secara berkala untuk mengawasi kondisi kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan janin guna persiapan persalinannya,masa nifas,pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan
2. Tujuan Pengawasan Antenatal Care
a. Tujuan Umum
Menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat pula
(Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.47).
b. Tujuan Khusus
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
3) Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar dalam masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89-90).
3. Kebijakan Program dan Tekhnis Asuhan Antenatal Care
a. Kebijakan Program
Memeriksakan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan.
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama hamil
1) Satu kali pada triwulan pertama.
2) Satu kali pada triwulan kedua.
3) Dua kali pada triwulan ketiga.
Pelayanan asuhan Antenatal Care sesuai standar yaitu “14 T” meliputi:
1) Timbang berat badan.
2) Ukur tekanan darah.
3) Ukur tinggi fundus uteri.
4) Pemberian tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan.
5) Pemberian imunisasi tetanus toxoid.
6) PemeriksaanHb.
7) PemeriksaanVDRL.
8) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara.
9) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil.
10) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
11) Pemeriksaan protein urine atas indikasi.
12) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi.
13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok.
14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria.
b. Kebijakan Tekhnis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat.
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1) Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melaksanakan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan.
3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4) Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.
(Saifuddin A.B,Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2007, hal.89-90)
4. Informasi Penting Untuk Setiap Kunjungan Antenatal Care
a. Trimester satu (sebelum minggu ke-14).
1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil.
2) Mendeteksi masalah dan menanganinya.
3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan lain-lain).
b. Trimester kedua (sebelum minggu ke-28).
1) Sama pada trimester pertama.
2) Kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah evaluasi oedema pada wajah dan tangan, periksa protein urine).
c. Trimester ketiga (antara minggu ke-28 – 36).
1) Sama pada trimester pertama dan kedua.
2) Palpasi abdominal untuk mengetahui ada kehamilan ganda atau tidak
d. Trimester ketiga (setelah 36 minggu).
1) Sama seperti diatas
2) Deteksi letak bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
(Pusdinakes, Materi Asuhan Antenatal, 2007, hal.2-3)
C. Konsep Dasar Anemia
1. Pengertian Tentang Anemia
a. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari 10 gr /100 ml.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.450).
b. Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menurunnya kadar zat warna merah dalam sel darah merah atau eritrosit yang disebut sebagai hemoglobin.
(http:www//sinarharapan.co.id, diakses 12 Juli 2011).
2. Patofisiologi Anemia
Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah (hypervolemia). Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah merah) yang beredar dalam tubuh. Tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga memberikan efek yaitu konsentrasi hemoglobin berkurang dari 12 mg /100 ml.
Pengenceran darah (Hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah merah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara fisiologi hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Bila hemoglobin itu sebelum sekitar 11 gr% maka terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologis dan Hb itu akan menjadi 9,5-10 gr%
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan,2007, hal.448-450).
3. Macam-macam Anemia dalam Kehamilan
a. Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang sering dijumpai adalah kekurangan zat besi, hal ini disebabkan karena kurangnya zat besi dalam makanan, karena gangguan resorpsi, ataukah karena terlampau banyaknya zat besi yang keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b. Anemia megaloblastik.
Disebabkan karena defisiensi asam folak karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
c. Anemia hipoplastik
Disebabkan karena sumsum tulang tidak mampu membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar rontgen, dan obat-obatan.
d. Anemia hemolitik.
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil maka anemianya biasanya menjadi berat sebaliknya mungkin pula pada kehamilan menyebabkan krises hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.451-458)
4. Tanda dan Gejala Anemia
Berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa kehamilan mengakibatkan suplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang sehingga menimbulkan tanda dan gejala sebagai berikut :
a. Merasa lelah dan sering mengantuk.
b. Merasa pusing dan lemah.
c. Merasa tidak enak badan dan napas pendek.
d. Mengeluh sakit kepala.
e. Mengeluh lidah perih mudah luka.
f. Bibir pucat dan kering.
g. Pucat pada membran, mukosa dan konjungtiva.
h. Pucat pada kuku jari tangan.
i. Tidak enak tidur.
j. Hilang nafsu makan, mual dan muntah.
k. Riwayat kehamilan yang dekat.
(Varney, dkk, 2007, hal.152)
5. Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin
a. Pengaruh anemia dalam kehamilan.
1) Risiko terjadi abortus
2) Persalinan prematur.
3) Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
4) Mudah terjadi infeksi.
5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%).
6) Mengancam jiwa dan kehidupan ibu.
b. Pengaruh anemia dalam persalinan :
1) Gangguan his, kekuatan mengedan.
2) Kala satu dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar.
3) Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
4) Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan post pertum karena atonia uteri.
5) Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
c. Pengaruh anemia pada kala nifas.
1) Terjadi subinvolusio uteri menimbulkan perdarahan post partum.
2) Memudahkan infeksi puerperium.
3) Pengeluaran ASI berkurang.
4) Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
5) Anemia kala nifas.
6) Mudah terjadi infeksi mammae.
d. Pengaruh anemia terhadap janin :
1) Abortus.
2) Terjadi kematian intra uterin.
3) Persalinan prematusritas tinggi.
4) Berat badan lahir rendah.
5) Dapat terjadi cacat bawaan.
6) Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.
7) Intelegensia rendah.
(Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.31-32).
6. Diagnosis Anemia Pada Kehamilan
Diagnosis anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan :
a. Anamnesis
Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, nafsu makan berkurang dan keluhan muntah-muntah lebih hebat pada kehamilan muda (Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.30).
b. Pemeriksaan fisik
Keluhan lemah, kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan konjungtiva oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal, 282).
c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi. Pemeriksaan dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester II. Dengan melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb dengan menggunakan alat sahli.
d. Batasan anemia yang digunakan oleh :
1) Departemen kesehatan sebagai berikut :
a) Normal > 10,5 gr%.
b) Anemia ringan 9 – 10,4% gr%.
c) Anemia sedang 7,6 – 8,9 gr%.
d) Anemia berat < 7,5 gr%
2) Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli
a) Normal 11 gr%
b) Anemia ringan 9 – 10,4 gr%.
c) Anemia sedang 7 – 8 gr%.
d) Anemia berat < 7 gr%.
(Manuaba, I.B.G, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan ,2007, hal.30).
7. Pencegahan dan Penanganan Anemia
a. Pencegahan anemia
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga di ketahui adanya infeksi parasit.
(Manuaba, I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.32).
Dengan pertimbangan bahwa sebagian ibu hamil mengalami anemia, pemerintah telah menyediakan preafarat besi (tablet besi/Fe) untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke Posyandu, maka dilakukan pemberian suplemen langsung zat besi yang mengandung 200 mg sulfat ferrosus 0,25 mg asam folat yang diikat dengan lactosa, diberikan setiap hari sejak kehamilan 20 minggu dan diharapkan ibu hamil mengkomsumsi minimal 90 tablet selama masa hamil.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007,hal 282)
b. Penanganan anemia
1) Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb 9 – 10,9% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg /hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 gr% /bulan.
2) Anemia sedang
Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi feros 600 – 1000 mg /hari seperti sufat ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 gr /100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.
3) Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena 2 x 10 ml intamuskuler pada gluteus. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007.hal:282).
Tabel 1.
Penanganan anemia dalam kehamilan menurut tingkat pelayanan
Polindes 1. Membuat diagnosis dan rujukan pemeriksaan laboratorium.
2. Memberikan terapi oral : besoi 60 mg /hari.
3. Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyusui.
4. Membuat diagnosis dan terapi
Puskesmas 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Menentukan penyakit kronik (TBC, malaria) dan penanganannya.
Rumah sakit 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Diagnosa thalassemia dan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes pada suami menentukan resiko pada bayi.
Sumber : Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2007, hal.284
D. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen Asuhan Kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian logis.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen, 2006, hal.121)
2. Tahapan dalam Manajemen Asuhan Kebidanan
Proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah. Manajemen asuhan kebidanan dimulai dengan pengumpulan data dan diakhiri dengan evaluasi asuhan kebidanan.
Ketujuh langkah terdiri dari keseluruhan kerangka kerja yang dapat dipakai dalam segala situasi. Langkah tersebut sebagai berikut :
a. Identifikasi Data Dasar
Identifikasi data merupakan langkah awal dari manajemen kebidanan, langkah yang merupakan kemampuan intelektual dalam mengidentifikasi masalah klien, kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka identifikasi data dasar meliputi pengumpulan data dan pengolahan.
1) Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data mencari dan menggali data/fakta atau informasi baik dari klien, keluarganya maupun tim kesehatan lainnya atau data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan pada pencatatan dokumen medik, hal yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :
a) Wawancara
Wawancara/anamnese adalah tanya jawab yang dilakukan antara bidan dan klien, keluarga lain maupun tim medis lain, data yang dikumpulkan mencakup semua keluhan klien tentang masalah yang dimiliki.
b) Observasi dan pemeriksaan fisik
Pada saat observasi dilakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe).
2) Pengolahan data
Setelah data yang dikumpulkan secara lengkap dan benar maka selanjutnya dikelompokkan dalam :
a) Data subyektif
Meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat menstruasi, riwayat persalinan, riwayat nifas dan laktasi yang lalu, riwayat ginekologi, dan KB, latar belakang budaya, pengetahuan dan dukungan keluarga serta keadaan psikososial.
b) Data obyektif
Menyangkut keadaan umum, tinggi, dan berat badan, tanda vital dan keadaan fisik obstetri.
c) Data penunjang
Meliputi hasil pemeriksaan laboratorium.
b. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Diagnosa adalah hasil analisis dan perumusan masalah yang diputuskan berdasarkan identifikasi yang didapat dari analisa-analisa dasar. Dalam menetapkan diagnosa bidan menggunakan pengetahuan profesional sebagai data dasar untuk mengambil tindakan diagnosa kebidanan yang ditegakkan harus berlandaskan ancaman keselamatan hidup klien.
c. Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Pada bab ini mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin akan terjadi atau yang akan dialami oleh klien jika tidak mendapatkan penanganan yang tidak akurat yang dilakukan melalui pengamatan yang cermat, observasi yang secara akurat dan persiapan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi bila tidak segera ditangani dapat membawa dampak yang lebih berbahaya sehingga mengancam kehidupan klien.
d. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera dan Kolaborasi
Menentukan intervensi yang harus langsung segera dilakukan oleh bidan atau dokter kebidanan. Hal ini terjadi pada penderita ke gawat darurat kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan lebih ahli sesuai keadaan klien. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya kolaborasi maupun konsultasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Pada bagian ini pula bidan mengevaluasi setiap keadaan klien untuk menentukan tindakan selanjutnya yang diperoleh dari hasil kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Pada tahap ini bila klien dalam keadaan normal tidak perlu dilakukan apapun sampai tahap kelima.
e. Intervensi (Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan)
Mengembangkan tindakan komprehensif yang ditentukan pada tahap sebelumnya, juga mengantisipasi diagnosa dan masalah kebidanan secara komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya sesuai kondisi dan situasi berdasarkan analisa dan asumsi yang seharusnya boleh dikerjakan atau tidak oleh bidan.
f. Implementasi (Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan)
Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan bekerja sama dengan tim kesehatan lain. Bidan harus bertanggung jawab terhadap tindakan langsung ataupun tindakan konsultasi maupun kolaborasi, implementasi yang efisien akan mengurangi waktu dan biaya perawatan serta meningkatkan kualitas pelayanan pada klien.
g. Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan
Langkah akhir manajemen kebidanan adalah evaluasi namun sebenarnya langkah manajemen kebidanan pada tahap evaluasi bidan harus mengetahui sejauhmana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien.
(Varney, 2007, hal.25-27)
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
a. Data Subyektif
Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan serta keluhan-keluhan, diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
b. Data Obyektif
Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi auskultasi, perkusi serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radio diagnostik.
c. Assesment/Diagnosa
Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut. Penegakan diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman keselamatan pasien/klien.
d. Planning/perencanaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah pasien/klien.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen,2006, hal.60-61)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi menjadi 3 trimester yaitu :
a. Trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan.
b. Trimester kedua dari bulan keempat sampai enam bulan.
c. Trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan. (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89)
Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari ovulasi sampai persalinan aterm sekitar 280 hari.
Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu :
a. Triwulan pertama antara 0-12 minggu.
b. Triwulan kedua antara 12-28 minggu.
c. Triwulan ketiga antara 28-40 minggu.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.125)
2. Diagnosis Kehamilan
a. Tanda – tanda tidak pasti hamil
1) Amenorhoe ( tidak dapat haid )
Untuk menentukan usia kehamilan dan perkiraan tanggal persalinan yang akan terjadi dihitung berdasarkan rumus Naegele ( hari + 7 ), ( bulan – 3 ), ( tahun + 1 ).
( Rina Imelda, 2010 Hal. 49 – 50 ).
2) Mual dan muntah ( nausea and vorniting )
Umumnya pada awal kehamilan ibu hamil akan mengalami mual dan muntah yang biasanya terjadi setelah pembuahan hingga 3 bulan pertama kehamilanakan terjadi pusing, malas bangun pagi jika perut kosong
(Chandra E, Baby Guide, 2007, Hal.38 )
3) Berubahnya selera, dan kesukaan atau kebencian yang kuat pada makanan tertentu ( mengidam )
4) Tidak ada selera makan ( anoreksia )
5) Sering ada dorongan untuk kencing pada 6 minggu setelah pembuahan penyebabnya adalah adanya tekanan rahim terhadap kandung kemih yang membatasi kemampuan kandung kamih untuk diisi air seni, saat uterus bertambah besar.
6) Perasaan letih, lelah dan pusing
7) Payudara tegang, melunak dan membesar dan sedikit terasa nyeri disebabakan pengaruh peningkatan hormon estrogen dan progesterone yang merangsang duktus dan alveoli payudara untuk merangsang produksi ASI.
(Chandra E,Baby Guide, 2007 hal. 36 ).
8) Konstipasi / obstipasi
Efek progesteron pada usus halus adalah memperpanjang absorbsi nutrient, mineral, dan obat – obatan. Efek progesterone pada usus besar menyebabkan konstipasi karena waktu transit yang melambat membuat air semakin banyak diabsorbsi dan menyebabkan peningkatan platulen karena usus mengalami pergeseran akibat pembesaran uterus .
( Helen Varney 2007, hal. 501 ).
9) Pigmentasi kulit
Meski penyebab pigmentasi kulit belum jelas hingga kini, diduga bahwa estrogen dan progesteron memiliki efek menstimulasi melanosit, efek ini dapat membuat warna putting dan areola primer menjadi lebih gelap. Kedua hal ini terjadi pada bulan ke tiga kehamilan. Linea nigra ( garis tipis hasil pigmentasi kulit pada garis tengah pada abdomen mulai sympisis pubis hingga ke umbilikus. Streae ( tanda peregangan kulit ) pada abdomen ( streae gravidarum ). Serta kloasma atau topeng kehamilan ( perubahan warna menjadi kecoklatan dan tidak merata pada area dahi, hidung, pipi, dan leher dan terjadi pada sekita bulan ke lima kehamilan.
( Helen Varney 2007, hal. 493 ).
10) Epulis : hipertrofi dan papil gusi
11) Pemekaran vena – vena : varises
b. Tanda – tanda Kemungkinan Hamil
1) Perut membesar
2) Uterus membesar : terjadi perubahan dalam bentuk besar, konsistensi dalam rahim.
3) Tanda Hegar ( segmen bawah uterus lunak pada perabaan )
4) Tanda Chadwick ( vagina berwarna ungu kebiru – biruan )
5) Tanda piscaseck ( uterus membesar kesalah satu arah )
6) Braxton Hick ( kontraksi – kontraksi kecil bila uterus dirangsang ).
7) Teraba ballottement
8) Reaksi kehamilan positif
( Varney, 2007, hal. 495 – 496 )
c. Tanda-tanda Pasti Hamil (Positif) :
1) Dapat diraba dan dikenal bagian-bagian janin.
2) Denyut jantung janin.
3) Didengar dengan stetoskop-monoral laenec
4) Dicatat dan didengar dengan alat doppler.
5) Dicatat dengan feto-elektro kardiogram.
6) Dapat dirasakan gerakan janin dan balotomen.
7) Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin.
8) Dengan ultrasonografi (scanning) dapat diketahui ukuran kantong janin, panjang janin (crown-rump),dan diameter biparietalis.
(Saifuddin,A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal ,2007, hal: 129)
3. Perubahan Fisiologi Yang Terjadi Dalam Kehamilan
a. Uterus
Pada bulan-bulan pertama uterus akan membesar di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uteri. Disamping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui,antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita hamil fisiologik (intra uteri) atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti molahidatidosa dan sebagainya
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,2007,hal:89)
Tafsiran besar pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus:
1) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar sebesar telur bebek.
2) Pada kehamilan 12 minggu, uterus membesar sebesar telur angsa. Pada saat ini fundus uteri telah dapat diraba dari luar, di atas simfisis.
3) Pada kehamilan 16 minggu, besar uterus kira-kira sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa. Dari luar fundus uteri kira-kira terletak di antara jarak pusat ke simfisis.
4) Pada kehamilan 20 minggu, fundus uteri terletak kira-kira di pinggir bawah pusat.
5) Pada kehamilan 24 minggu, fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat.
6) Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira tiga jari di atas pusat atau sepertiga jarak pusat ke prosessus xifoideus.
7) Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak di antara setengah jarak pusat dan prosessus xifoideus.
8) Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira satu jari bawah prosessus xifoideus.
9) Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah prosessus xifoideus
( Wiknjosastro.H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal: 90-91)
Gambar 1 : Pemeriksaan fundus uteri untuk menentukan umur kehamilan
(Sumber : Wiknjosastro.H,Imu Kebidanan, 2007, hal.158)
b. Serviks uteri
Serviks mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat,dan dengan adanya hipervaskularisasi mka konsistensi serviks menjadi lunak.
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan, 2007,hal: 94)
c. Vagina dan vulva
Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vulva dan vagina akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat berwarna merah atau kebiruan. Warna livide pada vagina dan porsio serviks disebut tanda Chadwick
(Wiknjosastro.H, Ilmu Kebidanan,,2007,hal:95).
d. Indung telur (ovarium)
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta pada kira – kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira – kira 3cm, kemudian ia mengecil serta plasenta terbentuk, korpus luteum berfungsi untuk mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron dan lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta jika plasenta telah terbentuk.
( Winkjoasastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95 ).
e. Payudara
Payudara mengalami perubahan-perubahan sebagai persiapan untuk memberikan ASI pada masa laktasi. Payudara akan tampak menjadi lebih besar, areola menjadi lebih hitam dan payudara lebih menonjol. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen, progesteron dan hormon somatomammotropin.
Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran payudara, progesteron menambah sel-sel asinus sedangkan somatomamtropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga perubahan kasein, laktoglobulin dan laktalbumin. Dengan demikian mamma dipersiapkan untuk laktasi (Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.95).
Gambar 2 : Anatomi payudara
(Sumber : Varney, dkk, hal.9)
f. Sistem sirkulasi darah
1) Volume Darah
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25% dan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung (cardiac output) yang meningkat sebanyak + 30%
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96).
2) Protein darah
Protein dalam serum berubah. Jumlah protein, albumin, dan gamma globulin menurun dalam triwulan I dan akan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan. Beta globulin dan fibrinogen terus meningkat.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.96 ).
3) Hemoglobin
Hemoglobin cenderung menurun oleh karena kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk kebutuhan transport oksigen (O2) yang sangat diperlukan selama kehamilan. Leukosit meningkat sampai 10.000 /ml (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.37).
4) Nadi dan tekanan darah
Tekanan darah arteri biasanya menurun hingga pertengahan kehamilan dan pada saat tertentu tekanan ini meningkat lagi hingga tekanan darah sebelum hamil pada saat aterm. Tekanan sistolik menurun 8 hingga 10 poin sementara tekanan diastolik mengalami penurunan lebih besar, ± 12 poin.
( Varney 2007, hal 498 )
5) Jantung
Karena kebutuhan suplai darah meningkat pada ibu hamil,jantung bekerja dengan keras selama hamil. Selain itu efek dari rahim yang membesar, paru-paru tertekan dan membuat ibu hamil sesak nafas dan cepat lelah.
(Chandra E,Baby Guide, 2007, hal:36)
g. Sistem pernapasan
Seoranng wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan napas pendek. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus – usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira – kira 20 %, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar ke sisi.
( Winkjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007 hal. 96 )
h. Sistem pencernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terhadap perasaan enek (mual), akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus-tonus traktus digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus-usus. Gejala muntah (emesis), biasanya terjadi pada pagi hari yang biasa dikenal dengan morning sickness
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
i. Sistem perkemihan
Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar dan akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul maka kandung kencing tertekan kembali sehingga timbul sering kencing. Uterus membesar, tonus otot-otot saluran kemih menurun akibat pengaruh hormon progesteron
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
j. Kulit
Peningkatan melanophore stimulating hormone (MSH) menyebabkan perubahan berupa hiperpigmentasi pada wajah (cloasma gravidarum), payudara, linea alba, strie livide pada perut dan sebagainya
(Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan, 2007, hal.97).
k. Tulang dan gigi
Selama hamil ibu sering mengalami pembengkakan gusi, terjadinya karang gigi, dan gusi mudah berdarah, bahkan tak jarang menimbulkan lubang gigi.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal. 36 ).
l. Kelenjar endokrin
Kelenjar tiroid dapat membesar sedikit, kelenjar hipofisis dapat membesar terutama pada lobus anterior dan kelenjar adrenal tidak begitu terpengaruh (Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.39).
m. Perubahan metabolisme
Kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, oleh karena itu wanita hamil perlu mendapat makanan yang bergizi dan dalam kondisi sehat.
1) Metabolisme basal naik sebesar 15%-20% dari semula, terutama pada trimester ketiga.
2) Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 MEq /l menjadi 145 Meq /l disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan oleh janin.
3) Kebutuhan protein wanita hamil makin meningkat untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan dan juga untuk persiapan laktasi.
4) Kebutuhan kalori di dapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
5) Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :
a) Kalsium : 1,5 gr /hr, 30-40 gr untuk pertumbuhan tulang janin.
b) Fosfor rata-rata 2 gr sehari.
c) Zat besi 800 mg atau 30-50 mg sehari.
d) Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak.
Berat badan ibu hamil akan bertambah dari 6,5-16,5 kg selama hamil (½ kg /minggu). Pertumbuhan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut : janin 3-3,5 kg, plasenta 0,5 kg, air ketuban 1 kg, rahim 1 kg, lemak 1,5 kg, protein 2 kg dan rekresi air garam 1,5 kg
( S.Rositawaty 2006, Hal.12 )
4. Perubahan Psikologi Wanita Hamil
Beberapa perubahan psikologi pada wanita hamil yang sering terjadi selama masa kehamilan :
a. Perubahan Pada Trimester Pertama.
Selama bulan pertama hingga ketiga, suasana emosi ibu hamil biasanya gampang sekali berubah. Pergolakan emosi menyebabkan ibu hamil sensitif, mudah menangis, gampang lelah, takut bila terjadi keguguran, lebih merasakan sakit daripada hamil. Perubahan emosi lebih disebabkan adanya aktifitas hormonal yang meningkat pesat dan sebagian faktor fisik. Misalnya kelelahan, mual, muntah, morning sickness, atau perubahan bentuk tubuh.
b. Perubahan Pada Trimester Kedua.
Kondisi emosi ibu hamil lebih baik. Tidak banyak keluhan yang dirasakan selama kehamilan bulan keempat hingga keenam ini. Karenanya, periode ini disebut periode keemasan. Ibu hamil mulai menyesuaikan diri dengan perubahan hormon kehamilan. Selain itu, tidak banyak muncul keluhan-keluhan fisik. Inilah yang membuat ibu hamil bisa menjalani kehamilan dengan lebih enak dan tidak sedramatis sebelumnya.
c. Perubahan Pada Trimester Ketiga.
Memasuki trimester akhir,perut yang semakin membesar membuat ibu hamil tidak bisa bergerak, cepat lelah, mudah lupa, dan gampang cemas. Emosinya menjadi lebih sukar dikendalikan, bahkan lebih sensitif. Tetapi seiring dengan pertambahan usia kehamilan, ibu hamil lebih siap mental untuk mempersiapkan persalinan dan kelahiran buah hati yang telah dinanti.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 67 )
5. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin dalam Kehamilan
Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan bahwa satu bulan berumur 28 hari. Kehamilan dianggap lewat bulan bila lebih dari 42 minggu. Untuk memperhitungkan waktu kelahiran dipakai rumus Naegle, yaitu tanggal haid pertama ditambah tujuh sedangkan bulannya ditambah sembilan. Perkiraan persalinan dapat diperhitungkan dengan mempergunakan ultrasonografi bila tanggal haid tak diketahui.
1) Minggu 30
Lemak dan berat bayi terus bertambah sehingga bobotnya bayi 1400 gram dan panjangnya 27 cm pada minggu ini. Karena janin semakin besar,gerkannya semakin terasa.
2) Minggu 31
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di plasenta memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Bayi berkemih sebanyak 500 ml sehari di dalam air ketuban.
3) Minggu 32
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu mata, alis, dan rambut di kepala bayi semakin jelas. Lanugo yang menutupi tubuh bayi mulai rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat dilahirkan. Dengan berat 1800 gram dan panjang 29 cm, kemampuan bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila janin dilahirkan pada minggu ini.
4) Minggu 33
Vernix yang menutupi kulit bayi sudah cukup tebal. Paru-parunya hampir matang dan janin terus berlatih pernafasan setiap hari. Pada minggu ini, ia mulai berada dalam posisi kelahiran.
5) Minggu 34
Bayi yang dilahirkan pada minggu ini, paru-parunya sudah cukup matang. Ukurannya rata-rata 2250 gram dan 32 cm sehingga ia sudah mampu bertahan hidup tanpa bantuan peralatan medis.
(Chandra E, Baby Guide, 2007, hal 19-24)
B. Konsep Dasar Antenatal Care
1. Pengertian Antenatal Care
Antenatal Care (ANC) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap ibu hamil beserta janinnya secara berkala untuk mengawasi kondisi kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan janin guna persiapan persalinannya,masa nifas,pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan
2. Tujuan Pengawasan Antenatal Care
a. Tujuan Umum
Menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat pula
(Mochtar R, Sinopsis Obstetri, hal.47).
b. Tujuan Khusus
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
3) Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar dalam masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal (Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal.89-90).
3. Kebijakan Program dan Tekhnis Asuhan Antenatal Care
a. Kebijakan Program
Memeriksakan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan.
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama hamil
1) Satu kali pada triwulan pertama.
2) Satu kali pada triwulan kedua.
3) Dua kali pada triwulan ketiga.
Pelayanan asuhan Antenatal Care sesuai standar yaitu “14 T” meliputi:
1) Timbang berat badan.
2) Ukur tekanan darah.
3) Ukur tinggi fundus uteri.
4) Pemberian tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan.
5) Pemberian imunisasi tetanus toxoid.
6) PemeriksaanHb.
7) PemeriksaanVDRL.
8) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara.
9) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil.
10) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
11) Pemeriksaan protein urine atas indikasi.
12) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi.
13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok.
14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria.
b. Kebijakan Tekhnis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat.
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
1) Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melaksanakan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan.
3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4) Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi.
(Saifuddin A.B,Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2007, hal.89-90)
4. Informasi Penting Untuk Setiap Kunjungan Antenatal Care
a. Trimester satu (sebelum minggu ke-14).
1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil.
2) Mendeteksi masalah dan menanganinya.
3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan lain-lain).
b. Trimester kedua (sebelum minggu ke-28).
1) Sama pada trimester pertama.
2) Kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah evaluasi oedema pada wajah dan tangan, periksa protein urine).
c. Trimester ketiga (antara minggu ke-28 – 36).
1) Sama pada trimester pertama dan kedua.
2) Palpasi abdominal untuk mengetahui ada kehamilan ganda atau tidak
d. Trimester ketiga (setelah 36 minggu).
1) Sama seperti diatas
2) Deteksi letak bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
(Pusdinakes, Materi Asuhan Antenatal, 2007, hal.2-3)
C. Konsep Dasar Anemia
1. Pengertian Tentang Anemia
a. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari 10 gr /100 ml.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.450).
b. Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menurunnya kadar zat warna merah dalam sel darah merah atau eritrosit yang disebut sebagai hemoglobin.
(http:www//sinarharapan.co.id, diakses 12 Juli 2011).
2. Patofisiologi Anemia
Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah (hypervolemia). Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah merah) yang beredar dalam tubuh. Tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga memberikan efek yaitu konsentrasi hemoglobin berkurang dari 12 mg /100 ml.
Pengenceran darah (Hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah merah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara fisiologi hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Bila hemoglobin itu sebelum sekitar 11 gr% maka terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologis dan Hb itu akan menjadi 9,5-10 gr%
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan,2007, hal.448-450).
3. Macam-macam Anemia dalam Kehamilan
a. Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang sering dijumpai adalah kekurangan zat besi, hal ini disebabkan karena kurangnya zat besi dalam makanan, karena gangguan resorpsi, ataukah karena terlampau banyaknya zat besi yang keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b. Anemia megaloblastik.
Disebabkan karena defisiensi asam folak karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
c. Anemia hipoplastik
Disebabkan karena sumsum tulang tidak mampu membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar rontgen, dan obat-obatan.
d. Anemia hemolitik.
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil maka anemianya biasanya menjadi berat sebaliknya mungkin pula pada kehamilan menyebabkan krises hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.
(Wiknjosastro H,Ilmu Kebidanan, 2007, hal.451-458)
4. Tanda dan Gejala Anemia
Berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa kehamilan mengakibatkan suplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang sehingga menimbulkan tanda dan gejala sebagai berikut :
a. Merasa lelah dan sering mengantuk.
b. Merasa pusing dan lemah.
c. Merasa tidak enak badan dan napas pendek.
d. Mengeluh sakit kepala.
e. Mengeluh lidah perih mudah luka.
f. Bibir pucat dan kering.
g. Pucat pada membran, mukosa dan konjungtiva.
h. Pucat pada kuku jari tangan.
i. Tidak enak tidur.
j. Hilang nafsu makan, mual dan muntah.
k. Riwayat kehamilan yang dekat.
(Varney, dkk, 2007, hal.152)
5. Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Janin
a. Pengaruh anemia dalam kehamilan.
1) Risiko terjadi abortus
2) Persalinan prematur.
3) Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
4) Mudah terjadi infeksi.
5) Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%).
6) Mengancam jiwa dan kehidupan ibu.
b. Pengaruh anemia dalam persalinan :
1) Gangguan his, kekuatan mengedan.
2) Kala satu dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar.
3) Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
4) Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan post pertum karena atonia uteri.
5) Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.
c. Pengaruh anemia pada kala nifas.
1) Terjadi subinvolusio uteri menimbulkan perdarahan post partum.
2) Memudahkan infeksi puerperium.
3) Pengeluaran ASI berkurang.
4) Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
5) Anemia kala nifas.
6) Mudah terjadi infeksi mammae.
d. Pengaruh anemia terhadap janin :
1) Abortus.
2) Terjadi kematian intra uterin.
3) Persalinan prematusritas tinggi.
4) Berat badan lahir rendah.
5) Dapat terjadi cacat bawaan.
6) Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.
7) Intelegensia rendah.
(Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.31-32).
6. Diagnosis Anemia Pada Kehamilan
Diagnosis anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan :
a. Anamnesis
Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, nafsu makan berkurang dan keluhan muntah-muntah lebih hebat pada kehamilan muda (Manuaba I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.30).
b. Pemeriksaan fisik
Keluhan lemah, kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan konjungtiva oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007, hal, 282).
c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi. Pemeriksaan dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester II. Dengan melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb dengan menggunakan alat sahli.
d. Batasan anemia yang digunakan oleh :
1) Departemen kesehatan sebagai berikut :
a) Normal > 10,5 gr%.
b) Anemia ringan 9 – 10,4% gr%.
c) Anemia sedang 7,6 – 8,9 gr%.
d) Anemia berat < 7,5 gr%
2) Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli
a) Normal 11 gr%
b) Anemia ringan 9 – 10,4 gr%.
c) Anemia sedang 7 – 8 gr%.
d) Anemia berat < 7 gr%.
(Manuaba, I.B.G, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan ,2007, hal.30).
7. Pencegahan dan Penanganan Anemia
a. Pencegahan anemia
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga di ketahui adanya infeksi parasit.
(Manuaba, I.G.B, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, 2007, hal.32).
Dengan pertimbangan bahwa sebagian ibu hamil mengalami anemia, pemerintah telah menyediakan preafarat besi (tablet besi/Fe) untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke Posyandu, maka dilakukan pemberian suplemen langsung zat besi yang mengandung 200 mg sulfat ferrosus 0,25 mg asam folat yang diikat dengan lactosa, diberikan setiap hari sejak kehamilan 20 minggu dan diharapkan ibu hamil mengkomsumsi minimal 90 tablet selama masa hamil.
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007,hal 282)
b. Penanganan anemia
1) Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb 9 – 10,9% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg /hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 gr% /bulan.
2) Anemia sedang
Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi feros 600 – 1000 mg /hari seperti sufat ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 gr /100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.
3) Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena 2 x 10 ml intamuskuler pada gluteus. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin
(Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2007.hal:282).
Tabel 1.
Penanganan anemia dalam kehamilan menurut tingkat pelayanan
Polindes 1. Membuat diagnosis dan rujukan pemeriksaan laboratorium.
2. Memberikan terapi oral : besoi 60 mg /hari.
3. Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyusui.
4. Membuat diagnosis dan terapi
Puskesmas 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Menentukan penyakit kronik (TBC, malaria) dan penanganannya.
Rumah sakit 1. Membuat diagnosa dan terapi.
2. Diagnosa thalassemia dan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes pada suami menentukan resiko pada bayi.
Sumber : Saifuddin A.B, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2007, hal.284
D. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen Asuhan Kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian logis.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen, 2006, hal.121)
2. Tahapan dalam Manajemen Asuhan Kebidanan
Proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah. Manajemen asuhan kebidanan dimulai dengan pengumpulan data dan diakhiri dengan evaluasi asuhan kebidanan.
Ketujuh langkah terdiri dari keseluruhan kerangka kerja yang dapat dipakai dalam segala situasi. Langkah tersebut sebagai berikut :
a. Identifikasi Data Dasar
Identifikasi data merupakan langkah awal dari manajemen kebidanan, langkah yang merupakan kemampuan intelektual dalam mengidentifikasi masalah klien, kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka identifikasi data dasar meliputi pengumpulan data dan pengolahan.
1) Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data mencari dan menggali data/fakta atau informasi baik dari klien, keluarganya maupun tim kesehatan lainnya atau data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan pada pencatatan dokumen medik, hal yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :
a) Wawancara
Wawancara/anamnese adalah tanya jawab yang dilakukan antara bidan dan klien, keluarga lain maupun tim medis lain, data yang dikumpulkan mencakup semua keluhan klien tentang masalah yang dimiliki.
b) Observasi dan pemeriksaan fisik
Pada saat observasi dilakukan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe).
2) Pengolahan data
Setelah data yang dikumpulkan secara lengkap dan benar maka selanjutnya dikelompokkan dalam :
a) Data subyektif
Meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat menstruasi, riwayat persalinan, riwayat nifas dan laktasi yang lalu, riwayat ginekologi, dan KB, latar belakang budaya, pengetahuan dan dukungan keluarga serta keadaan psikososial.
b) Data obyektif
Menyangkut keadaan umum, tinggi, dan berat badan, tanda vital dan keadaan fisik obstetri.
c) Data penunjang
Meliputi hasil pemeriksaan laboratorium.
b. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Diagnosa adalah hasil analisis dan perumusan masalah yang diputuskan berdasarkan identifikasi yang didapat dari analisa-analisa dasar. Dalam menetapkan diagnosa bidan menggunakan pengetahuan profesional sebagai data dasar untuk mengambil tindakan diagnosa kebidanan yang ditegakkan harus berlandaskan ancaman keselamatan hidup klien.
c. Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Pada bab ini mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin akan terjadi atau yang akan dialami oleh klien jika tidak mendapatkan penanganan yang tidak akurat yang dilakukan melalui pengamatan yang cermat, observasi yang secara akurat dan persiapan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi bila tidak segera ditangani dapat membawa dampak yang lebih berbahaya sehingga mengancam kehidupan klien.
d. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera dan Kolaborasi
Menentukan intervensi yang harus langsung segera dilakukan oleh bidan atau dokter kebidanan. Hal ini terjadi pada penderita ke gawat darurat kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan lebih ahli sesuai keadaan klien. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya kolaborasi maupun konsultasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Pada bagian ini pula bidan mengevaluasi setiap keadaan klien untuk menentukan tindakan selanjutnya yang diperoleh dari hasil kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Pada tahap ini bila klien dalam keadaan normal tidak perlu dilakukan apapun sampai tahap kelima.
e. Intervensi (Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan)
Mengembangkan tindakan komprehensif yang ditentukan pada tahap sebelumnya, juga mengantisipasi diagnosa dan masalah kebidanan secara komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya sesuai kondisi dan situasi berdasarkan analisa dan asumsi yang seharusnya boleh dikerjakan atau tidak oleh bidan.
f. Implementasi (Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan)
Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan bekerja sama dengan tim kesehatan lain. Bidan harus bertanggung jawab terhadap tindakan langsung ataupun tindakan konsultasi maupun kolaborasi, implementasi yang efisien akan mengurangi waktu dan biaya perawatan serta meningkatkan kualitas pelayanan pada klien.
g. Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan
Langkah akhir manajemen kebidanan adalah evaluasi namun sebenarnya langkah manajemen kebidanan pada tahap evaluasi bidan harus mengetahui sejauhmana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien.
(Varney, 2007, hal.25-27)
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
a. Data Subyektif
Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan serta keluhan-keluhan, diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
b. Data Obyektif
Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi auskultasi, perkusi serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radio diagnostik.
c. Assesment/Diagnosa
Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut. Penegakan diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman keselamatan pasien/klien.
d. Planning/perencanaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah pasien/klien.
(Simatupang E.J, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen,2006, hal.60-61)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar